Rencana pembangunan koridor BRT di Bandung membuat ratusan PKL terancam kehilangan lapak dan mata pencaharian mereka dalam waktu dekat.
Masa depan ratusan PKL di Bandung, khususnya kawasan Cicadas, menjadi sorotan akibat rencana pembangunan koridor BRT. Proyek ini memicu keresahan karena mengancam mata pencaharian PKL, sementara kejelasan nasib mereka masih belum pasti dan memicu tuntutan solusi adil dari pemerintah.
Dapatkan update terbaru seputar peristiwa Bandung yang sedang viral, eksklusif yang hanya ada di Info Kejadian Bandung.
Ketidakpastian Relokasi Dan Kompensasi
Pembangunan koridor BRT berdampak pada sekitar 555 PKL di Bandung, terutama di Cicadas. Dinas Koperasi dan UKM telah mendata sementara PKL terdampak dan menyiapkan relokasi. Namun, proses ini terkendala karena data resmi dari Kementerian Perhubungan belum final, sehingga penetapan anggaran terhambat.
Sayangnya, harapan PKL untuk mendapat kompensasi finansial pupus. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung, Budhi Rukmana, menegaskan kompensasi tidak dapat diberikan karena tidak sesuai ketentuan. Fokus saat ini adalah mencari lokasi relokasi yang tepat dan disepakati bersama tim koordinasi penataan PKL.
Para pedagang, melalui Ketua Persatuan PKL Cicadas, Suherman, menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka merasa data jumlah lapak yang digunakan oleh pemerintah tidak akurat dan lokasi relokasi yang dijanjikan belum menemui titik terang. Ketidakjelasan ini memicu penolakan keras terhadap proyek BRT, lantaran mereka merasa nasibnya diabaikan.
Penolakan Pedagang Dan Data Yang Berbeda
Penolakan pembangunan koridor BRT semakin menguat di kalangan PKL Cicadas. Mereka merasa belum ada kejelasan konkret mengenai nasib mereka, baik itu relokasi maupun kompensasi. Ketiadaan komunikasi yang efektif dan solusi yang memuaskan membuat mereka enggan untuk mendukung proyek ini.
Suherman, sebagai perwakilan PKL, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan mandiri jumlah pedagang di Cicadas. Berdasarkan data terbaru yang dikumpulkannya, terdapat 540 PKL aktif, berbeda dengan angka sementara yang dimiliki oleh Dinas Koperasi dan UKM. Perbedaan data ini menambah kerumitan dalam upaya mencari solusi yang adil.
Ketidaksesuaian data ini menjadi hambatan utama dalam proses perencanaan relokasi. Para pedagang mempertanyakan mengapa data yang mereka ajukan kepada Pemerintah Kota Bandung hingga kini belum juga diakomodasi. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi antara pihak pemerintah dan PKL yang terdampak.
Baca Juga: Polresta Bandung Uji Coba Tilang Elektronik Handheld, Bisa Bayar Denda
Upaya Dinas Koperasi Dan UKM
Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung terus berupaya mencari jalan keluar terbaik bagi para PKL. Meskipun kompensasi finansial dikesampingkan, opsi relokasi menjadi prioritas utama. Proses penentuan lokasi relokasi ini melibatkan tim koordinasi yang terdiri dari berbagai bidang, termasuk perencanaan dan pemberdayaan.
Tim koordinasi penataan PKL di Kota Bandung memiliki peran krusial dalam menyelaraskan kepentingan semua pihak. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa solusi relokasi yang diambil tidak hanya sesuai dengan ketentuan, tetapi juga dapat diterima oleh para pedagang. Konsolidasi data dan dialog yang terbuka menjadi kunci dalam proses ini.
Meskipun demikian, tantangan besar masih menghadang. Ketiadaan data final dari Kementerian Perhubungan mengenai jumlah pasti PKL menjadi kendala utama dalam mengalokasikan anggaran dan menentukan strategi relokasi yang efektif. Kejelasan data ini sangat penting untuk memastikan semua PKL terdampak mendapatkan perlakuan yang adil.
Harapan Dan Langkah Selanjutnya
Para PKL berharap pemerintah dapat segera memberikan kejelasan mengenai nasib mereka. Transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan pelibatan aktif pedagang dalam mencari solusi menjadi tuntutan utama. Mereka menginginkan sebuah solusi yang tidak hanya adil, tetapi juga berkelanjutan untuk mata pencarian mereka.
Pemerintah Kota Bandung, melalui Dinas Koperasi dan UKM, perlu mempercepat proses konsolidasi data PKL dan finalisasi lokasi relokasi. Komunikasi yang intensif dan mediasi antara semua pihak yang terlibat, termasuk Kementerian Perhubungan dan perwakilan PKL, sangat diperlukan untuk menghindari konflik lebih lanjut.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek BRT tidak hanya diukur dari kelancaran pembangunannya, tetapi juga dari bagaimana pemerintah dapat menangani dampak sosial yang ditimbulkan. Solusi yang humanis dan berpihak pada rakyat kecil akan menjadi indikator utama keberhasilan proyek ini secara keseluruhan.
Dapatkan update terbaru seputar peristiwa Bandung yang sedang viral, eksklusif yang hanya ada di Info Kejadian Bandung.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari jabar.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari swarapublik.com