Di tengah hiruk pikuk Jatinangor, tersembunyi sebuah permata sejarah dan ilmu pengetahuan menarik, Museum Zoologi ITB yang menakjubkan.
Gedung tua beratap ‘sontog jolopong’ dengan dominasi cat putih dan genteng tanah liat ini menawarkan ketenangan pedesaan, jauh dari bayangan kampus modern. Namun, di balik fasadnya yang sederhana, tersimpan ribuan “harta karun” yang menanti untuk dijelajahi, menceritakan kisah evolusi dan keanekaragaman hayati Indonesia.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Bandung.
Mengungkap Identitas Gedung Putih Beratap Kuno
Gedung ini, dengan arsitektur khas Sunda dan dikelilingi pepohonan rindang, memancarkan aura damai. Suara kicauan burung yang meramaikan pagi dan senja menambah kesan alami, seolah membawa pengunjung ke pedalaman. Jarang diketahui, bangunan ini adalah bagian dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dari luar, gedung ini mungkin terlihat biasa saja, namun siapa sangka bahwa di dalamnya tersimpan kekayaan koleksi zoologi yang tak ternilai. Museum Zoologi ITB merupakan tempat konservasi spesimen-spesimen hewan yang menjadi saksi bisu perkembangan ilmu biologi.
Koleksi museum ini mencakup beragam invertebrata laut, amfibi, reptil, burung, hingga mamalia besar. Keanekaragaman tersebut menjadikannya pusat studi penting bagi para peneliti dan mahasiswa. Museum ini bukan hanya tempat pajangan, melainkan juga wadah pelestarian ilmu pengetahuan.
Sejarah Panjang Koleksi Dan Peran Para Peneliti
Koleksi museum ini berawal dari penemuan-penemuan ekspedisi yang dilakukan oleh para peneliti Eropa dan Amerika Serikat, seperti Prof. Poul Heegaard dan Prof. Walter Roepke. Mereka menjelajahi berbagai wilayah di Indonesia, mengumpulkan spesimen yang kini tersimpan rapi di sini. Sebagian besar koleksi ini kemudian disumbangkan ke Departemen Biologi ITB, yang kini menjadi SITH ITB.
Penyimpanan koleksi ini memiliki tujuan mulia: menjadi penunjang penelitian dan pendidikan biologi, khususnya di bidang zoologi. Sejak 1947, museum ini telah aktif mendukung kegiatan belajar-mengajar di Departemen Biologi, menjadi fondasi bagi pemahaman mendalam tentang dunia hewan.
Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi ITB, menjelaskan bahwa fasilitas ini menjadi tulang punggung bagi pendidikan zoologi. Dengan sekitar 3.000 spesies dari total 11.000 spesimen, museum ini menawarkan gambaran komprehensif tentang keanekaragaman hayati. Koleksi mencakup vertebrata seperti amfibi, reptil, ikan, burung, dan mamalia, serta invertebrata seperti moluska dan serangga.
Baca Juga: Usai Libur Tahun Baru, Kehadiran ASN Pemkot Bandung Capai 95 Persen
Jejak Sejarah Dan Kontribusi Mahasiswa
Asal-usul spesimen ini tidak lepas dari peran aktif Departemen Biologi dalam kegiatan belajar-mengajar dan penelitian. Para peneliti dan pengajar terdahulu mengumpulkan spesimen dari seluruh Indonesia untuk mempelajari taksonomi dan ekologi hewan. Proses pengumpulan ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan ilmu biologi.
Menariknya, mahasiswa biologi ITB juga memiliki peran signifikan, terutama dalam menjaga koleksi hewan besar. Dulu, mereka bertindak sebagai konsultan untuk Kebun Binatang Bandung (Zoological Garden Bandung). Ketika ada satwa mati, bangkai hewan tersebut dibawa ke museum untuk diawetkan, sebagai bagian dari timbal balik konsultasi.
Salah satu mahasiswa yang berperan besar dalam mengoleksi hewan, termasuk yang berukuran besar, adalah Max van Balgooy. Keturunan Belanda-Indonesia ini aktif melakukan taksidermi, sebuah metode pengawetan hewan, yang turut memperkaya koleksi museum. Max van Balgooy menjadi salah satu ikon dalam sejarah Museum Zoologi ITB.
Koleksi Bahan Ajar Kuno Dan Informasi Kunjungan
Selain spesimen hewan, museum ini juga menyimpan ratusan bahan ajar kuno. Dulunya berupa buku, bahan ajar ini telah dipindahkan ke lembaran kertas berukuran A0 dengan skala spesifik. Koleksi ini mencakup ilustrasi zoologi berupa gambar spesimen, proses biologis, dan representasi taksa hewan tertentu.
Bahan ajar ini sangat beragam dan dulunya digunakan untuk mata kuliah seperti fisiologi, taksonomi, ekologi, dan genetika. Menurut Ganjar, bahan ajar ini masih digunakan oleh mahasiswa angkatan 1970-an, menunjukkan relevansi dan nilai historisnya. Bahkan, SITH ITB memiliki ilustrator lokal seperti Pak Adang dan Pak Usman.
Bagi yang tertarik mengunjungi Museum Zoologi ITB, lokasinya berada di Kampus ITB Jatinangor, Jalan Letnan Jenderal Purn. (Purnawirawan) Dr. (HC) Mashudi No. 1, Sumedang. Waktu kunjungan adalah Senin-Jumat, pukul 08.00-16.00 WIB (istirahat 11.45-13.00 WIB). Pengunjung disarankan membuat janji terlebih dahulu dengan menghubungi Ganjar Cahyadi.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Bandung kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Bandung.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com