Hilal Ramadan 1447 H tidak terlihat di Bandung, sehingga penetapan awal puasa menunggu keputusan resmi dalam sidang isbat.
Penentuan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, selalu menjadi momen penting yang dinanti umat Islam. Di Indonesia, metode rukyatul hilal (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi) menjadi dasar penentuannya. Tahun ini, pengamatan di Bandung menunjukkan hilal belum terlihat, memicu antisipasi akan hasil sidang isbat.
Dapatkan update terbaru seputar peristiwa Bandung yang sedang viral, eksklusif yang hanya ada di Info Kejadian Bandung.
Hasil Rukyat di Observatorium Albiruni Unisba
Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Islam Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi salah satu titik pemantauan hilal resmi oleh Kementerian Agama RI. Dalam pemantauan awal Ramadan 1447 Hijriah, tim di sana melaporkan bahwa hilal tidak terlihat hingga matahari terbenam pada pukul 18.17 WIB.
Kegiatan rukyat ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, termasuk Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Jabar, BMKG Bandung, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan akurasi dan kredibilitas hasil pengamatan.
Ali Abdul Latif, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jabar, menjelaskan bahwa posisi bulan saat magrib berada di kisaran minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Dengan posisi serendah ini, secara astronomis, hilal memang tidak mungkin terlihat.
Kondisi Astronomis Dan Kriteria Visibilitas Hilal
Kepala Observatorium Albiruni, Encep Abdul Rojak, menjelaskan secara astronomis bahwa ijtimak atau konjungsi geosentris terjadi pada pukul 19.01 WIB. Waktu ini adalah setelah matahari terbenam di wilayah Bandung, yang berarti bulan masih berada di bawah ufuk saat proses rukyat berlangsung.
Saat matahari terbenam, azimuth bulan tercatat pada 256°45’26”, sementara matahari pada 257°47’07”. Nilai elongasi, yaitu jarak sudut antara bulan dan matahari, hanya sekitar 1°19’05”. Angka ini jauh di bawah batas minimal visibilitas hilal yang disyaratkan.
Encep menambahkan bahwa berdasarkan kriteria imkan rukyat, hilal berpeluang terlihat jika ketinggiannya telah melampaui 3 derajat di atas ufuk. Namun, posisi bulan di Indonesia pada hari pengamatan rata-rata masih antara minus dua derajat hingga nol derajat, sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk teramati.
Baca Juga: Geger di Bandung! Pria 20-an Tewas Usai Terjatuh Dari Lantai 15 Apartemen
Proses Pengamatan Dan Laporan ke Pusat
Pengamatan hilal dilakukan melalui tahapan teknis yang ketat. Sejak pukul 13.30 WIB, tim Observatorium Albiruni telah melakukan kalibrasi teropong dengan membidik matahari menggunakan filter khusus. Prosedur ini penting untuk menjaga akurasi alat dan keselamatan selama pengamatan.
Menjelang magrib, sekitar 30 menit sebelum matahari terbenam, teropong diarahkan ke posisi prediksi bulan. Kamera CCD yang terpasang memproyeksikan citra pengamatan ke layar monitor 45 inci. Hal ini memungkinkan seluruh peserta dari berbagai unsur menyaksikan proses rukyat secara langsung.
Ali Abdul Latif menegaskan bahwa hasil pengamatan dari Jawa Barat, termasuk laporan hilal yang tidak terlihat dari Pangandaran, Subang, Sukabumi, dan lokasi lainnya, langsung disampaikan ke pusat pada hari yang sama. Laporan ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H.
Menunggu Keputusan Resmi Sidang Isbat
Dengan tidak terlihatnya hilal di seluruh titik Jawa Barat, besar kemungkinan bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Ini berarti awal Ramadan kemungkinan akan jatuh pada hari Kamis. Namun, penetapan resmi tetap berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat.
Ali menegaskan bahwa pemerintah tetap mengedepankan mekanisme resmi melalui sidang isbat untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 H. Keputusan resmi awal Ramadan akan diumumkan setelah sidang yang dipimpin Menteri Agama selesai diselenggarakan di Jakarta.
Encep Abdul Rojak menambahkan bahwa rukyat hilal di Observatorium Albiruni merupakan tradisi ilmiah dan syiar keagamaan yang rutin dilaksanakan menjelang Ramadan. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga teknis diharapkan dapat terus memperkuat integrasi hisab dan rukyat dalam penentuan kalender hijriah di Indonesia.
Dapatkan update terbaru seputar peristiwa Bandung yang sedang viral, eksklusif yang hanya ada di Info Kejadian Bandung.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari jabar.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari tribratanews.jabar.polri.go.id