Bandung Raya menghadapi peningkatan volume sampah yang mengkhawatirkan, sehingga TPA Sarimukti didorong untuk beralih ke skema pengelolaan modern.
Pemerintah dan pihak terkait menekankan pentingnya metode efisien dan ramah lingkungan, termasuk pemilahan sampah, teknologi pengolahan energi, serta fasilitas daur ulang. Transformasi ini diharapkan mampu menekan penumpukan sampah hingga puluhan persen, mencegah risiko longsor.
Dapatkan update terbaru seputar peristiwa Bandung yang sedang viral, eksklusif yang hanya ada di Info Kejadian Bandung.
Sarimukti Siap Transformasi Pengelolaan Sampah Bandung Raya
Pemerintah daerah dan pihak terkait di Bandung Raya tengah mendorong TPA Sarimukti untuk beralih ke skema pengelolaan sampah yang lebih modern. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya volume sampah yang berpotensi memicu darurat lingkungan di wilayah perkotaan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat menyatakan, kebutuhan inovasi pengelolaan sampah menjadi semakin mendesak karena pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di Bandung Raya terus meningkat. Volume sampah harian diperkirakan menembus ribuan ton per hari jika tidak ditangani dengan tepat.
“Kita tidak ingin menunggu bencana lingkungan terjadi. Sarimukti harus mulai mengadopsi metode pengelolaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” tegas pejabat DLH, Rabu (26/2/2026). Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam implementasi skema baru.
Sampah Meningkat, Tindakan Segera Dibutuhkan
Kondisi saat ini menunjukkan TPA Sarimukti sudah mendekati kapasitas maksimal. Peningkatan sampah rumah tangga, komersial, dan industri ringan menimbulkan risiko longsor, kebakaran, dan pencemaran air tanah. Jika tidak ada tindakan, Bandung Raya berpotensi menghadapi darurat sampah yang berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah daerah mengungkapkan, volume sampah diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan urbanisasi. Saat ini, TPA Sarimukti menampung lebih dari 2.500 ton sampah setiap hari, sedangkan kapasitas idealnya hanya sekitar 2.800 ton. “Kapasitas hampir penuh, jadi skema baru sangat dibutuhkan untuk memperlambat penumpukan,” ujar Kepala DLH.
Beberapa solusi yang tengah dipertimbangkan mencakup pemilahan sampah organik dan non-organik, teknologi pengolahan sampah menjadi energi, serta peningkatan fasilitas daur ulang. Semua opsi ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA hingga 30-40%.
Baca Juga: Nahas! Motor Hilang Kendali di Bandung, Satu Pengendara Tewas Seketika
Skema Baru di Sarimukti Ramah Lingkungan dan Efisien
Skema baru yang didorong meliputi sistem Waste-to-Energy (WTE) dan peningkatan mekanisme pemilahan di sumbernya. Pemanfaatan teknologi ini memungkinkan sampah organik dan non-organik diolah menjadi energi listrik atau bahan bakar alternatif, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.
Selain itu, pemerintah mendorong masyarakat dan sektor bisnis untuk lebih aktif dalam program pemilahan sampah. Bank Sampah dan skema insentif bagi pelaku usaha yang menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Skema baru ini juga menekankan transparansi dalam pengelolaan dan pelaporan, sehingga masyarakat dapat memantau efektivitas pengelolaan sampah di Sarimukti. Hal ini diharapkan meningkatkan kesadaran lingkungan sekaligus mengurangi potensi konflik sosial terkait limbah.
Dorongan Pemerintah dan Tantangan Implementasi
Pemerintah daerah menyatakan kesiapan memberikan dukungan regulasi dan anggaran untuk mendorong Sarimukti beralih ke skema baru. Namun, implementasi menghadapi tantangan seperti kebutuhan investasi besar, teknologi yang kompleks, dan koordinasi antarinstansi.
Selain itu, perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi hambatan. Kurangnya kesadaran pemilahan di sumbernya membuat beban TPA tetap tinggi. Pemerintah menargetkan edukasi dan kampanye lingkungan sebagai bagian dari strategi mitigasi jangka panjang.
Meski menghadapi tantangan, optimisme tinggi muncul karena skema baru dinilai dapat menekan risiko darurat sampah di Bandung Raya. “Kalau kita berhasil mengimplementasikan skema baru, Sarimukti bisa menjadi contoh pengelolaan sampah modern di Indonesia,” pungkas Kepala DLH.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com