Penangkapan 75 preman yang kerap memalak pedagang di Bandung adalah bukti nyata bahwa aparat kepolisian serius menanggapi keluhan masyarakat dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Namun, seperti kota besar lain, tantangan sosial seperti aksi premanisme masih kerap mengganggu kenyamanan masyarakat. Terutama para pedagang kecil yang menjadi sasaran utama praktik pemalakan Info Kejadian Bandung.
Aksi Premanisme yang Meresahkan Pedagang
Premanisme telah lama menjadi momok bagi para pedagang kecil dan pengusaha mikro di Bandung. Para preman ini biasanya menagih uang “proteksi” dengan dalih menjaga keamanan atau membantu kelancaran usaha pedagang. Namun pada kenyataannya, hal ini hanya menjadi praktik pungutan liar yang merugikan dan menekan pedagang yang mayoritas berpenghasilan pas-pasan.
Wilayah seperti Pasar Kosambi, Pasar Cihapit, dan sejumlah area di Jalan Buah Batu dan Jalan Ahmad Yani menjadi lokasi rawan aksi premanisme. Para pedagang yang seharusnya fokus menjalankan usaha justru harus menghadapi tekanan dan ancaman dari kelompok preman yang menuntut sejumlah uang secara paksa.
“Kami sudah sering dipalak, kalau tidak bayar sering diancam atau bahkan barang dagangan kami rusak,” ungkap salah satu pedagang di Pasar Kosambi yang enggan disebutkan namanya. “Ini membuat kami tidak tenang dan susah berkembang.”
Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena selain merugikan ekonomi para pelaku usaha kecil, premanisme juga menciptakan ketidakamanan sosial yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Penangkapan 75 Preman
Menanggapi keluhan masyarakat dan laporan para pedagang, Polrestabes Bandung menggelar operasi besar-besaran untuk memberantas aksi premanisme yang meresahkan ini. Dalam beberapa pekan terakhir, aparat berhasil menangkap 75 orang yang terindikasi sebagai preman aktif di berbagai titik rawan.
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo menjelaskan, operasi ini dilakukan berdasarkan data dan pengaduan masyarakat, dengan pendekatan intelijen yang mendalam agar penangkapan tepat sasaran.
“Kami melakukan penyisiran di titik-titik yang selama ini sering terjadi pemalakan terhadap pedagang kecil. Ini bagian dari komitmen kami untuk menciptakan suasana kondusif bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Para tersangka diduga melakukan praktik pemalakan dengan modus meminta sejumlah uang secara paksa kepada pedagang yang sedang berjualan. Dengan ancaman kekerasan atau kerusakan barang dagangan jika tidak memenuhi permintaan mereka. Barang bukti berupa uang tunai, alat komunikasi, dan sejumlah senjata tajam juga berhasil disita dalam operasi ini.
Baca Juga: Pemprov Jabar Tegas! Siap Bongkar Beking Judi Kasino di Bandung
Upaya Pencegahan Jangka Panjang

Meski penangkapan ini merupakan langkah awal yang sangat positif. Penanganan aksi premanisme memerlukan strategi jangka panjang. Premanisme kerap muncul sebagai akibat dari persoalan sosial yang kompleks, seperti kemiskinan, pengangguran, dan kurangnya akses pendidikan dan lapangan kerja.
Pemerintah daerah bersama kepolisian dan aparat terkait di Bandung kini tengah merancang program-program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mengurangi faktor-faktor yang memicu munculnya premanisme. Di antaranya adalah pelatihan keterampilan, pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM), serta penyediaan lapangan kerja bagi kelompok rentan.
Menurut Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Siti Marwiyah, “Upaya penindakan harus dibarengi dengan program preventif agar akar masalah bisa teratasi. Kami juga membuka ruang dialog dengan komunitas lokal untuk mengurangi ketegangan dan menumbuhkan kesadaran hukum.”
Reaksi Positif Dari Pedagang dan Warga
Berita tentang penangkapan 75 preman tersebut langsung disambut positif oleh para pedagang dan warga Bandung. Mereka merasa lega dan berharap agar tindakan ini menjadi awal dari penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku kriminalitas sejenis.
“Alhamdulillah, semoga dengan penangkapan ini kami bisa berjualan tanpa rasa takut lagi,” kata Sari, pedagang sayur di Pasar Cihapit. “Kami berharap aparat terus konsisten mengawasi dan menindak jika ada yang berani mengganggu.”
Selain itu, pengusaha kecil dan koperasi lokal juga menyatakan dukungannya terhadap upaya kepolisian. Mereka menilai bahwa lingkungan usaha yang aman dan nyaman merupakan faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Kesimpulan
Penangkapan 75 preman yang kerap memalak pedagang di Bandung adalah bukti nyata bahwa aparat kepolisian serius menanggapi keluhan masyarakat dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Ini menjadi momentum baru bagi Kota Bandung untuk mewujudkan lingkungan yang lebih aman, terutama bagi pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi korban.
Meski masih banyak tantangan, langkah tegas ini diharapkan menjadi awal perubahan yang lebih besar. Di mana aksi premanisme tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Bandung. Sinergi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan menjaga keamanan dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Untuk update terbaru dan informasi lengkap seputar berbagai kejadian di Bandung, seperti bencana alam, kemacetan, dan kegiatan masyarakat, anda bisa kunjungi Info Kejadian Bandung.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari jabarekspres.com
- Gambar Kedua dari jabar.inews.id